DETAIL BERITA

Sosialisasi Kespro dan Dampak Pernikahan Usia Dini Untuk Kader Kesehatan Remaja

Sosialisasi Kespro dan Dampak Pernikahan Usia Dini Untuk Kader Kesehatan Remaja


Mataram (4/10/2018)- Kader Kesehatan Remaja (KKR) SMAN 5 Mataram hari ini mendapatkan sosialisasi tentang kesehatan reproduksi dan dampak pernikahan usia dini. Acara yang dibuka oleh Kepala SMAN 5 Mataram, Drs. H. Arofiq, MM ini diisi dengan pemutaran Film drama bahaya pernikahan usia dini yang diperankan oleh anak-anak SMA. Dalam acara ini, SMAN 5 Mataram mengundang pemateri dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang NTB yang telah banyak mendampingi kader kesehatan di sekolah dan kader kesehatan masyarakat di wilayah lombok barat. 

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah menyampaikan bahwa ini adalah wadah pembelajaran bagi siswa maka siswa harus serius untuk mengikuti kegiatan ini. Dengan acara ini juga diharapkan ada kegiatan yang berkelanjutan bagi kader kesehatan remaja SMAN 5 Mataram baik dari pembina atau difasilitasi oleh lembaga luar.

Dalam artikel PKBI dinyatakan bahwa pada masa remaja tubuh dan hormone seksual berkembang pesat yang ditandai dengan menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki yang biasanya masa ini disebut dengna masa pubertas. Proses ini alamiah dan terjadi pada seluruh remaja di dunia. Tetapi proses perubahan yang cepat ditambah minimnya informasi mengenai apa yang terjadi pada tubuh remaja tersebut kadang membuat banyak remaja bingung dan tidak siap ditambah pula banyak mitos yang beredar, norma sosial dan tekanan teman sebaya yang kuat serta pornografi yang beredar luas bisa menempatkan remaja menjadi rentan dan beresiko terhadap kesehatan reproduksi dan seksual, oleh sebab itu mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi menjadi penting dan menjadi bagian hak remaja.

Menurut UNESCO, pendidikan kesehatan reproduksi adalah sebuah pendidikan yang dikembangkan dengan pendekatan yang sesuai dengan usia, peka budaya dan komprehensif yang mencakup program yang memuat informasi ilmiah akurat, realistis dan tidak bersifat menghakimi. Pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif memberikan kesempatan bagi remaja untuk megeksplorasi nilai-nilai dan sikap diri serta melatih kemampuan pengambilan keputusan, komunikasi dan keterampilan penekanan resiko di semua aspek seksualitas.