DETAIL BERITA

Smala Deklarasikan diri Sebagai Sekolah Ramah Anak (SRA)

Smala Deklarasikan diri Sebagai Sekolah Ramah Anak (SRA)


Mataram, 13/5. SMAN 5 Mataram mendeklarasikan diri sebagai Sekolah Ramah Anak untuk  meningkatkan mutu dan kualitas Sekolah, yang merupakan bentuk komitmen dan upaya sekolah untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan menyenangkan.

SMAN 5 Mataram telah melakukan berbagai proses sejak beberapa bulan terakhir ini. Persiapan paling aktif selama tiga bulan terakhir. Tahapan deklarasi Sekolah Ramah Anak dimulai dari persiapan dan sosialisasi antara lain kepada siswa, guru, orang tua, hingga masyarakat. Berikutnya, komitmen sekolah dengan membentuk Tim Sekolah Ramah Anak.

Identifikasi potensi, perencanaan menyusun rencana aksi atau program tahunan. Lalu merencanakan kesinambungan kebijakan, program, dan kegiatan yang sudah ada. Selama prosesnya, SMAN 5 Mataram di dampingi tim Dinas Dikbud NTB, DP3AP2KB NTB, fasilitator Sekolah Ramah Anak tingkat nasional. ”Untuk melengkapi setiap prosesnya, kami diberikan materi atau instrumuen yang harus diisi oleh sekolah, untuk menjadikan SMAN 5 Mataram sebagai Sekolah Ramah Anak,” ungkap Siti Nurhani selaku Kepala SMAN 5 Mataram.

Nurhani menjelaskan konsep Sekolah Ramah Anak, mengubah paradigma dari pengajar menjadi pembimbing, orang tua dan sahabat, memastikan orang dewasa di sekolah terlibat penuh dalam melindungi anak. Orang dewasa memberikan keteladanan dalam keseharian. Serta memastikan orang tua dan anak terlibat aktif dalam memenuhi enam komponen Sekolah Ramah Anak.

Enam komponen tersebut adalah kebijakan Sekolah Ramah Anak yang di dalamnya termasuk deklarasi. Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) terlatih Konvensi Hak Anak. Proses belajar yang ramah Anak, tanpa kekerasan dan merendahkan harkat dan martabat. Sarana Prasarana Ramah Anak.

Mengedepankan partisipasi anak. Partisipasi orang tua, lembaga masyarakat, dunia usaha, dan stakeholder lainnya. ”Mudah-mudahan SMAN 5 Mataram menjadi satuan pendidikan yang pendekatan pembelajarannya ramah anak, nyaman tempat belajar dan berinteraksi, nyaman dan aman dalam memperoleh pendidikan karakter,” harap dia.

Deklarasi Sekolah Ramah Anak ini juga sebagai upaya SMAN 5 Mataram merealisasikan visi sekolah. Yaitu mewujudkan pendidikan yang berkualitas, untuk menghasilkan insan yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, sehat, kreatif, dan berdaya saing. ”Semuanya itu sudah kami ucapkan dalam ikrar Sekolah Ramah Anak,” ujar Nurhani.

Sebagai wujud deklarasi, salah satu perwakilan siswa membacakan ikrar Sekolah Ramah Anak SMAN 5 Mataram. Diikuti oleh tamu undangan yang hadir, diantaranya Wakil Gubernur (Wagub) NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah, Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan. Juga jajaran, pengawas sekolah, komite sekolah, kepala lingkungan, siswa dan guru SMAN 5 Mataram.

Dalam kesempatan itu SMAN 5 Mataram juga melakukan peresmian perpustakaan digital. Lalu pameran hasil karya GTK dan siswa SMAN 5 Mataram yang termuat di dalam buku antologi. Termasuk pameran produk hasil Gelar Karya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Kurikulum Merdeka, dan Bakti Stunting.

Khusus peresmian Perpustakaan Digital, sebagai upaya SMAN 5 Mataram menata kembali sarana dan prasarana tersebut. Pandemi Covid-19 menjadi pengalaman terbaik bagaimana sekolah terus belajar mengadaptasikan diri. ”Dengan fasilitas ini, anak-anak bisa mengakses bahan atau sumber belajar dari rumahnya,” jelas dia.

Selama proses pembentukan perpustakaan digital, SMAN 5 Mataram mendapatkan pendampingan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB selama sebulan. ”Mereka mengirim timnya untuk membina, membimbing, sekaligus mengajarkan kami tentang menata katalog yang bagus. Melabel buku, mengumpulkan buku yang sesuai dengan jenis dan masih banyak lagi, sehingga ini layak kami luncurkan,” jelasnya.

Dengan beragam dan banyaknya sumber belajar yang bisa diakses oleh guru dan siswa, menjadi pemicu motivasi untuk terus meraih prestasi.
Berikutnya, ada peluncuran buku Antologi Puisi-Cerpen karya guru dan siswa SMAN 5 Mataram. Ini sebagai salah satu cara agar mereka tertarik untuk menulis. ”Kami memulai ini dari hal terkecil saja yakni satu guru satu cerpen, atau satu guru satu puisi, dan itu semuanya kami rangkum dalam satu karya buku,” ujarnya.

Selama proses penyusunan, SMAN 5 Mataram didampingi pihak Kantor Bahasa NTB. Untuk menyempurnakan penyusunan kalimat cerpen maupun puisi agar sesuai tata bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hingga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan hal lain terkait penulisan.

”Ini juga kami di dampingi selama sebulan dan Alhamdulillah saya sebagai kepala sekolah mengapresiasi usaha dan kerja keras teman-teman,” terang Nurhani.

Sementara itu, pameran hasil Gelar Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Kurikulum Merdeka dilakukan dengan peragaan busana dari limbah kertas, yang dilakukan sejumlah siswa.

Terakhir adalah Bakti Stunting. SMAN 5 Mataram selama pelaksanaannya bekerja sama dengan Puskesmas Mataram dan kepala lingkungan di sekitar sekolah untuk bersama-sama mencegah stunting. Dilakukan dengan menyukseskan program Dinas Dikbud NTB satu siswa satu telur, yang dibagikan ke pihak internal maupun eksternal lingkup SMAN 5 Mataram.

Dengan berbagai program yang dihasilkan, Nurhani mengatakan komitmen berikutnya adalah menjaga sekaligus mempertahankan kebijakan tersebut. Diwujudkan dalam implementasi nyata.

”Ini memang perlu usaha dan tak kalah penting kami akan terus saling mengingatkan satu sama lain, bahwa setiap kegiatan memiliki makna penting bukan hanya sekedar seremonial saja,” pungkasnya.

Wakil Gubernur (Wagub) NTB Hj Sitti Rohmi Djalillah mengapresiasi upaya yang dilakukan SMAN 5 Mataram. Dengan harapan dapat memenuhi konsep BARISAN dari Sekolah Ramah Anak, yaitu Bersih, Asri, Ramah, Indah, Inklusif, Sehat, Aman, dan Nyaman. ”Karena ini kunci,” tegasnya.

Bagaimana SMAN 5 Mataram bisa merealisasikan Sekolah Ramah Anak apabila salah satu komponennya, seperti siswa merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah. ”Saya ingatkan kepada kita semua, anak harus senang berada di sekolah, dan senangnya itu harus mengedepankan kedisiplinan,” ujarnya.

Sebab poin penting dari ikrar Sekolah Ramah Anak yang telah dibacakan, memprioritaskan agar peserta didik merasa senang berada di sekolah. Bisa menjadi rumah kedua, segala hal yang tercipta selama menuntut ilmu di sekolah bisa menjadi kenangan indah sepanjang hayat bagi siswa.

”Kepala sekolah yang sukses adalah pemimpin yang mampu menghadirkan lingkungan yang sehat, yang bersih dan mampu menjadikan sekolah sebagai rumah sebagai satu keluarga yang rukun,” tandasnya.